28 Juni, 2013

Filled Under:

BUTA, TULI, dan AL-QURAN



ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتنّ إلا وأنتم مسلمون .
Artinya : Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian tinggalkan dunia ini kecuali dalam menyerah kepada Allah swt.
Secara panjang lebar  dan dari berbagai sudut pandang, Allah swt dalam Al-Quran mengantar manusia untuk takwa kepada-Nya. Salah satu diantaranya, Allah swt mengenalkan diri-Nya kepada umat manusia. Bahkan, ulama menyatakan أول الدين معرفة الله (yang pertama dan utama dalam beragama ini adalah mengenal Allah swt).  Dari sini menjadi jelas bagi kita, bahwa yang melandasi kita dalam ber-Islam ini, baik berkualitas atau tidaknya, sangat ditentukan dan tergantung pada bagaimana pengenalan kita umat manusia ini kepada Allah swt.
Banyak cara Allah swt mengenalkan diri-Nya kepada kita. Salah satu cara Allah swt mengenalkan diri-Nya adalah dengan menjelaskan dan menerangkan sifat-sifat-Nya kepada kita umat manusia. Dan termasuk dari sifat Allah swt yang sering kita baca dan kita dengar adalah الرحمن (Maha Pengasih). Sifat Rahman ini, Allah paparkan rinciannya dalam Al-Quran yaitu dalam surah Al-Rahman.
الرحمن. علّم القرآن. Termasuk kasih sayang Allah swt kepada kita umat manusia yaitu Allah mengajarkan pedoman hidup kepada manusia. Pedoman hidup bagi manusia adalah Al-Quran.  Sejak Allah swt menciptakan manusia pertama Adam as, Allah swt iringi penciptaan itu dengan ilmu. Allah menyebutkan dalam Al-Quran وعلّم آدم الأسماء كلّها .
Maka, ketika Adam mengikuti ilmu Allah itu, Allah swt menginstruksikan kepada seluruh makhluk-Nya, termasuk malaikat, untuk sujud kepada Adam. Allah swt berfirman,
 وإذ قلنا للملائكة اسجدوا فسجدوا  . dan ketika mahkluk-makhluk itu sujud kepada Adam dalam rangka mengikuti ilmu Allah swt, mereka sujud karena mengikuti ajaran Allah, maka yang terjadi adalah keharmonisan secara universal.
Namun, ada makhluk yang tidak mau sujud yaitu Iblis ( إلا إبليس ). Dan karena Iblis tidak mau sujud, tidak mau mengikuti ajaran Allah, maka Iblis divonis oleh Allah swt sebagai makhluk terkutuk. Iblis ternyata tidak mau menjadi makhluk terkutuk sendirian. Akhirnya, dia memohon kepada Allah2 permintaan. Pertama, dia mohon untuk tidak dimatikan sampai hari kiamat. Yang kedua, dia minta untuk diberi kebebasan menjerumuskan anak cucu Adam.
Maka, permintaan Iblis itu dikabulkan oleh Allah swt, dan Iblis konsisten dengan misinya. Dia tarik anak cucu Adam dan anak cucu Jin untuk mengikutinya. Sementara Iblis sendiri adalah bagian dari Jin, Allah swt berfirman, كان من الجنّ ففسق عن أمر ربه (Dia iblis termasuk golongan Jin, lalu dia melanggar dari perintah Tuhannya).
Manusia dan jin yang telah direkrut oleh Iblis, lalu mereka diikat dalam sebuah organisasi. Dan organisasi ini dikenal dengan حزب الشيطان (Partai Syetan). Dalam Al-Quran terdapat 2 partai, yaitu Hizbu as-Syaithon ( حزب الشيطان ) dan Hizbullah (  حزب الله ). Hizbu asy-Syaithon ini dipimpin oleh Iblis. Visi dasar dari organisasi ini adalah mengantar manusia ke neraka. Misinya adalah menjauhkan manusia dari ajaran Allah swt (القرآن  ), dari pedoman hidup manusia.
Gerakan misi partai syetan ini bisa dilihat dalam surah Al-An’am : 112.
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوّا شياطين الإنس والجنّ يوحي بعضهم إلى بعض زحرف القول غرورا .
Dan demikianlah Kami jadikan rival dan musuh bagi setiap Nabi, yaitu syetan-syetan dari golongan manusia dan jin.(apa kerjanya?)  Sebagian mereka saling menasehati sebagian yang lain terhadap Zukhruf Al-Qouli, ucapan-ucapan, konsep yang zukhruf  (indah) sebagai ghururo alat untuk menipu dan memperdaya.
Nah, disinilah Iblis menggunakan ucapan yang batil yang dibungkus dengan keindahan, tidak lain itu dilakukan dalam rangka memperdaya manusia dan jin untuk menjadi pengikutnya.
Ketika Iblis berhasil menggaet anak cucu manusia jauh dari ajaran Allah swt sehingga dominasi planet bumi ini didominasi oleh pengikut partai syetan (sehingga muncul manusia seperti Namrud, Fir’aun, Abu Lahab dan lain sebagainya) maka Allah swt dengan kasih sayang-Nya selalu mengangkat Nabi dan Rasul untuk mengeluarkan manusia yang telah mengikuti partai syetan kembali kepada ajaran Allah swt. Ketika Namrud berkuasa maka Allah mengangkat Nabi Ibrohim as. Fir’aun berkuasa maka Allah swt mengangkat Nabi Musa as. Abu Lahab berkuasa, Allah swt mengangkat Nabi Muhammad saw.
Bahkan, ketika Nabi Muhammad saw wafat, dengan kasih sayang-Nya Allah swt berfirman :
إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون (Sungguh Kami telah menurunkan Al-Quran dan sungguh Kami selalu menjaganya). Dari sini, ada jaminan bahwa Al-Quran ini akan selalu dipelihara keberlangsungannya. Kita bisa melihat bahwa Al-Quran selalu diajarkan dari berbagai sisi kehidupan. Di Televisi, di Sekolah, di Masjid, di mana-mana Al-Quran diajarkan sampai hari kiamat.
Sehingga, kalau ada umat manusia tidak mau tahu terhadap ajaran-ajaran Allah swt, sementara Allah swt telah paparkan dari berbagai media tentang ajaran ini, maka dengan terpaksa Allah swt lemparkan ke Neraka. Lalu penjaga neraka itu, nanti di neraka hanya bertanya tentang Al-Quran saja. 
Allah swt berfirman :
كلما ألقي فيها فوج سألهم خزنتها ألم يأتكم نذير، قالوا بلى قد جاءنا نذيرٌ فكذّبنا وقلنا ما نزل الله من شيئ إن أنتم إلا في ضلال كبير لو كنّا نسمع أو نعقل ما كنّا في أصحاب السعير.
Artinya : Ketika sekelompok manusia dilemparkan ke dalam neraka, penjaga neraka bertanya kepada mereka (yang masuk ke neraka), tidakkah telah datang kepada kalian orang yang memberi peringatan ? mereka  berkata : “benar, telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan lalu kami mendustakannya” dan kami katakan, Allah tidak menurunkan suatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang nyata. (Mereka menyesal dan berkata) andaikata kami dulu (di dunia) kami mendengar ( al-Quran) dan kami menghayatinya, niscaya kami bukan penghuni neraka ini.
Namun, mereka penghuni neraka itu mengakui terhadap dosa yang telah mereka kerjakan selama di dunia itu ( فاعترفوا بذنبهم ). Sehingga bisa dinyatakan, bahwa hakekat dosa adalah ketika kita umat manusia ini tidak menggunakan mata, telinga dan hati untuk mempelajari dan menghayati Al-Quran. Dan orang yang buta dan tuli (terhadap Al-Quran) ini oleh Allah swt disebut sebagai makhluk yang paling jelek.
Allah swt berfirman, إنّ شرّ الدوآبّ عند الله الصمُّ البكمُ  sesungguhnya makhluk yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang tuli dan buta. Tuli adalah tidak bisa mendengar dan buta adalah tidak bisa melihat.
Bukan mereka itu tidak mendengar. Mereka makhluk yang buruk itu mendengar semuanya kecuali Al-Quran. Mereka bisa bicara. Mereka bicara politik, ekonomi, berita terkini. Namun ketika diminta bicara Al-Quran, mereka bisu.
Akhirnya mudah-mudahan kita tidak tergolong pada golongan orang-orang buta dan tuli. Dan semoga kita menjadi hamba Allah yang sholeh dan menjadi salah bagian dari pemelihara dan penjaga Al-Quran ini. Demikian petikan khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Anwari Hambali ketika khutbah jumat di Masjid Aqshal Madinah Pesantren Hidayatullah Surabaya. Mudah-mudahan menjadi renungan dan kepada Allah swt semua dikembalikan.

0 komentar:

Copyright @ 2013 RUMAH KEHIDUPAN.