06 Mei, 2025

Untuk Kalian Para Da'i dan Penyebar Risalah Islam

Pendahuluan

Allah ﷻ berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menjadi dasar tanggung jawab moral dan spiritual yang besar bagi para pendidik dan orang tua dalam membentuk generasi yang bahagia dunia dan akhirat. Kebahagiaan ini bukan hanya dicapai melalui pendidikan formal, tetapi melalui komunikasi yang bermakna, sistem sosial yang adil, dan pemahaman yang mendalam tentang konteks sosial-budaya anak.

1. Pendidikan Berbasis Sistem Sosial: Teori Getzels-Guba

Model Getzels-Guba mengingatkan kita bahwa setiap lembaga—baik keluarga, sekolah, atau pesantren—adalah sistem sosial yang memiliki dua dimensi:

  • Nomotetik (Struktural): di mana peran (guru, dai, orang tua) dan harapan terhadap mereka ditetapkan berdasarkan nilai-nilai lembaga.

  • Idiografik (Individu): memperhatikan kepribadian, kebutuhan, dan disposisi tiap anak atau individu dalam sistem.

Dalam konteks ini, seorang guru atau dai tidak hanya bertugas "mengajar", tetapi juga "memanusiakan" peserta didik, memahami kebutuhan spiritual, psikologis, dan emosional mereka.

📌 Praktiknya: seorang ustaz yang memahami bahwa santrinya pendiam bukan berarti pemalas, bisa jadi ia sedang menghadapi masalah batin, sehingga perlu pendekatan khusus.

2. Komunikasi Bermakna: Teori SPEAKING Dell Hymes

Komunikasi efektif dalam pendidikan Islam sangat krusial. Teori SPEAKING Dell Hymes menekankan bahwa komunikasi harus kontekstual dan menyentuh nilai-nilai budaya dan psikologis. Mari kita terapkan unsur-unsur SPEAKING:

  • Setting: Ajarkan di tempat yang penuh adab—masjid, ruang belajar, atau majelis taklim.

  • Participants: Sapa anak didik sesuai peran—bukan sekadar murid, tapi calon pemimpin.

  • Ends (Tujuan): Tujuan bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi membentuk insan berakhlak mulia.

  • Act Sequence: Rancang urutan penyampaian: mulai dari kisah Qur’ani, refleksi, baru ajaran hukum.

  • Key: Sampaikan dengan nada penuh kasih, bukan marah atau menakut-nakuti.

  • Instrumentalities: Gunakan bahasa ibu, analogi yang relevan, teknologi bila perlu.

  • Norms: Tunjukkan adab saat bicara—duduk, mendengar, menyimak.

  • Genre: Gunakan genre kisah, nasihat, tanya jawab, hingga puisi religi—agar meresap ke hati.

📌 Seorang dai yang membahas kematian tidak hanya membaca ayat, tapi menyentuh hati hadirin dengan kisah nyata, nada lembut, dan empati mendalam.

3. Integrasi Al-Qur'an dalam Sistem dan Komunikasi

Al-Qur'an mendukung kedua pendekatan ini. Ia adalah kitab yang:

  • Menetapkan sistem sosial yang adil (lihat QS. An-Nisa: 58 tentang amanah).

  • Menghargai individu (lihat QS. Al-Isra: 70 tentang kemuliaan manusia).

  • Mengajarkan komunikasi bijak (lihat QS. An-Nahl: 125 tentang dakwah bil hikmah).

Penutup dan Seruan

Wahai para guru, dai, kiai, muballigh, dan orang tua—tugas kita bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membangun peradaban hati. Dengan memadukan ajaran Al-Qur'an, komunikasi yang kontekstual (Dell Hymes), dan struktur sosial yang manusiawi (Getzels-Guba), kita bisa menghantarkan anak-anak kita bukan hanya sukses di dunia, tetapi bahagia dan selamat di akhirat.

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”
(HR. Muslim)


BAITUL MAKMUR dan KELUARGA MUSLIM

Bait al-Makmur merupakan sebuah Masjid yang terletak di Shidrotul Muntaha. Pada waktu Nabi Muhammad saw di Mi'roj kan, Nabi melaksanakan Sholat di tempat ini. Tempat ini ramai oleh para Nabi dan Nabi Muhammad saw menjadi Imam mereka pada sholat itu.

Bait al-Makmur artinya rumah yang damai dan merupakan dambaan seorang Muslim untuk menjadikan rumah-rumahnya sebagai rumah yang makmur dan ramai dengan kegiatan menjadi Abdullah, status sebagai hamba Allah dan kegiatan menjadi Kholifatullah, status sebagai pengelola alam ini.

Baitul Makmur dalam bahasa arab, berarti rumah yang ramai. ramai dengan apa? ramai dengan kebaikan. ramai dengan keindahan. dan  ramai dengan ketaatan. seyogyanya, rumah ini ramai dengan bacaan al Quran, sholawat, dzikir, majelis taklim dan sebagai tempat bermain bagi anak-anak. sebagai tempat menghilangkan penat dan capek bagi semua orang yang lelah. 

Baitul Makmur merupakan tempat memperbaiki semua keadaan. memperbaiki ibadah sholat yang belum baik. memperbaiki perilaku yang kurang elok. dan memperbaiki semua kerusakan dalam semua aspek kehidupan insan.

Semoga rumah kaum muslimin, bisa menjadi rumah sebagaimana halnya baitul makmur.



23 Januari, 2025

DUA GOLONGAN PENGHUNI NERAKA, PENGUASA DAN WANITA

Dua golongan yang menjadi penghuni neraka, penguasa dan wanita. Penguasa yang seperti apa? dan wanita yang bagaimana? bacalah penjelasannya dalam uraian berikut ini. 

١٢٥ - (۲۱۲۸) - حدثني زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ سُهَيْلِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بهَا النَّاسُ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاتٌ رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا»

Hadits dalam Shohih Muslim No 2128.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ada dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: (1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka menggunakannya untuk memukul manusia; (2) Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan cara menggoda dan membuat orang lain tergoda, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga dapat tercium dari jarak yang jauh."

Dalam Hadits di atas, Rasulullah SAW menyebutkan dua golongan penghuni neraka yang mendapat peringatan serius. 

Pertama adalah kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang menggambarkan orang-orang yang menggunakan kekuasaan atau kekuatan fisik untuk menindas dan menyakiti orang lain. Gambaran ini merujuk pada alat yang mereka gunakan untuk menyiksa manusia, yang dapat dikaitkan dengan para pemimpin zalim atau penguasa yang menyalahgunakan otoritasnya demi menindas rakyatnya.  

Kedua adalah wanita yang "berpakaian tetapi telanjang," yakni mereka yang mengenakan pakaian yang tidak menutupi aurat secara sempurna, seperti pakaian yang transparan atau ketat. Selain itu, mereka juga digambarkan berjalan dengan sikap menggoda dan memiliki kepala seperti punuk unta, yang merujuk pada gaya rambut atau aksesori yang menonjol, tidak sesuai dengan kesederhanaan yang diajarkan dalam Islam.

Kedua golongan ini diancam dengan hukuman berat, yakni tidak akan masuk surga dan bahkan tidak akan mencium bau surga, yang dalam hadits disebut dapat tercium dari jarak yang sangat jauh. Ini menjadi indikasi betapa jauhnya mereka dari rahmat Allah akibat perbuatan mereka. Dari hadits ini, tersampaikan pesan moral penting bahwa Islam sangat menekankan keadilan, melarang penindasan, dan memperingatkan untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan. Bagi perempuan, terdapat anjuran untuk berpakaian sesuai syariat dan menutup aurat dengan sempurna. Selain itu, umat Islam diingatkan untuk tidak mengikuti gaya hidup yang melampaui batas atau perilaku yang dapat merusak moral

 

10 Desember, 2019

Al-Ustadz Ahkam Sumadiana : Islam, sistem hidup yang sempurna dan paripurna

Islam ini adalah sistem hidup, ia sempurna, karena semua hal yang dibutuhkan manusia ada ulasannya, ada aturannya, dimana setiap aturannya tuntas dan paripurna
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Memandang Islam idealnya bukan sekedar ajaran, terlebih yang berdimensi ritual, tetapi juga harus dipandang sebagai sebuah sistem, utuh, dan menyeluruh.
“Islam ini adalah sistem hidup, ia sempurna, karena semua hal yang dibutuhkan manusia ada ulasannya, ada aturannya, dimana setiap aturannya tuntas dan paripurna,” terang anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ahkam Sumadiana, dalam tausiyah selepas shalat Shubuh di Masjid Baitul Karim, Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta (6/12/2019).
Pria yang hobi olahraga bulutangkis itu melanjutkan bahwa tidak mungkin orang bisa meragukan Islam sebagai sistem hidup.
“Bukti Islam sebagai sistem hidup yang sempurna dan paripurna bisa dilihat aspek yang diatur. Hingga persoalan WC ada aturannya dan dibahas secara tuntas, mulai dari tata cara masuk hingga keluar, tuntas,” terangnya.
“Jika masalah WC saja tuntas dan sempurna, tidak mungkin Islam tidak mengatur aspek yang lebih dari itu, seperti ekonomi, pendidikan, politik dan lain sebagainya,” urainya menambahkan.
Oleh karena itu, pria asli Gunung Kidul Yogyakarta itu mendorong umat Islam sadar bahwa Islam menghendaki umatnya melihat Islam sebagai sistem.
“Ketika kita mampu melihat dinul haq (Islam) ini sebagai sistem maka kita akan memahami bahwa dalam hidup ini bukan sekedar ibadah, kita dituntut untuk menjalankan perintah Allah dalam sebuah sistem, sistemik, dan sistematis. Inilah tugas umat Islam paling penting yang harus segera dimulai sekarang juga,” tutupnya.*/Imam Nawawi

27 April, 2014

Wong Fei Hung Seorang Muslim

Wong Fei Hong (Faisal Hussein Wong) Adalah Seorang Muslim (Ulama) ?

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu
dalam film Once Upon A Time in China . Dalam film itu, karakter Wong
Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong , Jet Li. Namun
siapakah sebenarnya Wong Fei Hung ?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri
legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China
oleh pemerintah China . Namun Pemerintah China sering berupaya
mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga
supremasi kekuasaan Komunis di China.
Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari
keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan
dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga
merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila
di-bahasa-arab- kan , namanya ialah Faisal Hussein Wong.
Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu
pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok
(wushu/kungfu) . Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po
Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang
ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu
beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari
Sepuluh Macan Kwantung . Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari
diwariskannya kepada Wong Fei Hung.
Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik
beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim
membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah
dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat
menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.
Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya
berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya
pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien
yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang
bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu
tanpa pamrih.
Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah
melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti
Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang
memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya
Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama
Islam.
Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada
Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah
yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei
Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris.
Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan
andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung
Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa
pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.
Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir
mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria
(sekarang kita mengenalnya sebagai Korea ). Jika saja pemerintah Ch’in
tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia,
Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya
akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.
Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru
pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah
menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil
mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin
sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat
taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus
Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung
juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton
pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri
bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil
menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan
kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin
yang akan mereka peras.
Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai
cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian
dengan mafia Canton . Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena
istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya
wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia
bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan
juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan
hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada
kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.
Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat
Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan
pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela
kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas
orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian
yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum
yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu
pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati
Syahid.
Tak ada salahnya kita, generasi muslim yang hidup setelahnya, meneladani segala kebaikannya.. ^_^

http://dhanika.wordpress.com/2009/09/27/wong-fei-hong-faisal-hussein-wong-adalah-muslim-ulama/
 
Sumber Referensi:
http://en.wikipedia .org/wiki/ Wong_Fei_ Hung
http://www.wongfeih ung.com/
http://www.abdurroh im.web.id/ index.p.. ..rah&Itemid= 170
http://majalahummat ie.wordpress. com/…eorang- muslim/
http://www.asiawind.com/forums/read.php?f=2&i=2366&t=2335
———— -

13 Maret, 2014

TAUSIYAH USTADZ ABDURRAHMAN MUHAMMAD

Ahad Subuh, 09/03/2014 di Masjid Aqshol Madinah


Ada tiga hakekat dalam al-Quran. 

Pertama, Hakekat Tilawah ( Haqqo Tilawatih) yang merupakan pintu pertama untuk masuk pada hakekat selanjutnya. Yang merupakan hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam membangun kelembagaan spiritual dalam dirinya. Yang merupakan pondasi yang pertama kali dibangun dalam membentuk bangunan Islam, Iman, dan Ihsan yang kuat dan kokoh. Karena Rosulullah saw dibentuk  dan masuk pada hakekat ini dulu dengan menerima wahyu Iqro’ sebagai wahyu pertama. Oleh karena itu, maka, Hakekat Tilawah ini yang harus terus menerus ditranformasikan oleh kita umat islam untuk diri-diri kita, keluarga kita, santri kita dan dalam lembaga kita ini. 

Teori SPEAKING Dell Hymes ( Sosiolinguistik )

Background

Sociolinguist
Dell Hymes developed the following model to promote the analysis of discourse as a series of speech events and speech acts within a cultural context. It uses the first letters of terms for speech components; the categories are so productive and powerful in analysis that you can use this model to analyze many different kinds of discourse. Mr. McGowan patricularly enjoys applying this model to storytelling.

Copyright @ 2013 RUMAH KEHIDUPAN.