Pendahuluan
Allah ﷻ berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menjadi dasar tanggung jawab moral dan spiritual yang besar bagi para pendidik dan orang tua dalam membentuk generasi yang bahagia dunia dan akhirat. Kebahagiaan ini bukan hanya dicapai melalui pendidikan formal, tetapi melalui komunikasi yang bermakna, sistem sosial yang adil, dan pemahaman yang mendalam tentang konteks sosial-budaya anak.
1. Pendidikan Berbasis Sistem Sosial: Teori Getzels-Guba
Model Getzels-Guba mengingatkan kita bahwa setiap lembaga—baik keluarga, sekolah, atau pesantren—adalah sistem sosial yang memiliki dua dimensi:
-
Nomotetik (Struktural): di mana peran (guru, dai, orang tua) dan harapan terhadap mereka ditetapkan berdasarkan nilai-nilai lembaga.
-
Idiografik (Individu): memperhatikan kepribadian, kebutuhan, dan disposisi tiap anak atau individu dalam sistem.
Dalam konteks ini, seorang guru atau dai tidak hanya bertugas "mengajar", tetapi juga "memanusiakan" peserta didik, memahami kebutuhan spiritual, psikologis, dan emosional mereka.
📌 Praktiknya: seorang ustaz yang memahami bahwa santrinya pendiam bukan berarti pemalas, bisa jadi ia sedang menghadapi masalah batin, sehingga perlu pendekatan khusus.
2. Komunikasi Bermakna: Teori SPEAKING Dell Hymes
Komunikasi efektif dalam pendidikan Islam sangat krusial. Teori SPEAKING Dell Hymes menekankan bahwa komunikasi harus kontekstual dan menyentuh nilai-nilai budaya dan psikologis. Mari kita terapkan unsur-unsur SPEAKING:
-
Setting: Ajarkan di tempat yang penuh adab—masjid, ruang belajar, atau majelis taklim.
-
Participants: Sapa anak didik sesuai peran—bukan sekadar murid, tapi calon pemimpin.
-
Ends (Tujuan): Tujuan bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi membentuk insan berakhlak mulia.
-
Act Sequence: Rancang urutan penyampaian: mulai dari kisah Qur’ani, refleksi, baru ajaran hukum.
-
Key: Sampaikan dengan nada penuh kasih, bukan marah atau menakut-nakuti.
-
Instrumentalities: Gunakan bahasa ibu, analogi yang relevan, teknologi bila perlu.
-
Norms: Tunjukkan adab saat bicara—duduk, mendengar, menyimak.
-
Genre: Gunakan genre kisah, nasihat, tanya jawab, hingga puisi religi—agar meresap ke hati.
📌 Seorang dai yang membahas kematian tidak hanya membaca ayat, tapi menyentuh hati hadirin dengan kisah nyata, nada lembut, dan empati mendalam.
3. Integrasi Al-Qur'an dalam Sistem dan Komunikasi
Al-Qur'an mendukung kedua pendekatan ini. Ia adalah kitab yang:
-
Menetapkan sistem sosial yang adil (lihat QS. An-Nisa: 58 tentang amanah).
-
Menghargai individu (lihat QS. Al-Isra: 70 tentang kemuliaan manusia).
-
Mengajarkan komunikasi bijak (lihat QS. An-Nahl: 125 tentang dakwah bil hikmah).
Penutup dan Seruan
Wahai para guru, dai, kiai, muballigh, dan orang tua—tugas kita bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membangun peradaban hati. Dengan memadukan ajaran Al-Qur'an, komunikasi yang kontekstual (Dell Hymes), dan struktur sosial yang manusiawi (Getzels-Guba), kita bisa menghantarkan anak-anak kita bukan hanya sukses di dunia, tetapi bahagia dan selamat di akhirat.
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”
(HR. Muslim)

0 komentar:
Posting Komentar