Maksud diciptakan Manusia antara lain agar dia mengabdi kepada Allah (Q.S. 51:56). Manusia diwajibkan beribadah kepada penciptanya, dalam arti selalu tunduk dan taat kepada perintahnya guna mengesakan dan mengenal-Nya dengan petunjuk yang telah diberikan.
Istilah Ibadah menurut Al Azhari dipergunakan hanya untuk menyembah Allah semata. Ibnu Taimiyah menformulasikan makna ibadah dengan segala usaha yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Ibadah mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian khusus (khos) dan pengertian umum (aam). Dalam pengertian khusus, ibadah adalah melaksanakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tata caranya telah disyariatkan. Sedangkan pengertian umum, ibadah adalah aktivitas yang titik tolaknya ikhlas (murni) dan ditujukan untuk mencapai ridha Allah berupa amal saleh.
Dari segi sasarannya, ibadah dapat diklasifikasikan atas tiga macam, yaitu
- Ibadah person, pelaksanaannya tidak melibatkan orang lain, tetapi dari pihak individu sebagai hamba Allah. Misalnya, amaliah keagamaan yang bersifat ritus seperti sholat, puasa, dsb.
- Ibadah antarperson, pelaksanaannya bergantung pada pihak bersangkutan tetapi membutuhkan keterlibatan orang lain. Misalnya, pernikahan, jual beli, dsb
- Ibadah sosial, kegiatan interaktif antar masing-masing individu dengan pihak lain yang dibarengi dengan kesadaran diri sebagi hamba Allah SWT.
Dari itulah, ibadah adalah keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia termasuk kehidupan duniawi, yang dilakukan dengan sikap batin, serta niat pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah Swt. Sebagai tindakan yang bermoral untuk memperoleh
ridha-Nya.
2. Manusia sebagai Khalifatullah
Penciptaan manusia sebagai makhluk yang tertinggi sesuai dengan maksud dan tujuan terciptanya manusia untuk menjadi khalifah. Secara harfiah khalifah berarti yang mengikuti dari belakang. Jadi, manusia adalah wakil atau pengganti di bumi dengan tugas menjalankan mandate yang diberikan oleh Allah kepadanya, membangun dunia sebaik-baiknya (Q.S. 2:30).
Sebagai khalifah, manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas tugasnya dalam menjalankan mandate Allah (Q.S. 10:14).
Adapun mandat yang dimaksud adalah:
- patuh dan tunduk pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
- bertanggung jawab atas kenyataan dan kehidupan di dunia sebagai pengemban amanah.
- berbekal diri dengan ilmu pengetahuan, hidayah agama dan kitab suci
- menerjemahkan segala sifat-sifat Allah pada perilaku kehidupan sehari-hari dalam batas kemanusiaannya atau
- melaksanakan sunah-sunah yang diridhainya.
- membentuk masyarakat islam yang ideal yang disebut dengan ummah
- mengembangkan fitrahnya sebagai khalifatullah yang mempunyai komitmen, kesadaran, kemerdekaan, dan kreatifitas.
- menjadi penguasa untuk mengatur bumi dengan upaya memakmurkan Negara untuk kesejahteraan masyarakat yang beriman.
- membentuk suasana aman, tentram, dan damai di bawah naungan ridha Allah dengan asas; ukhuwah islamiah, silaturrahim, ta'awun, rauf (kasih saying), sabar, tasamuh (toleransi), musawah (persamaan) adil, kreatif, dan dinamis.
3. Manusia sebagai Warosatul anbiya'
Kehadiran nabi Muhammad SAW dibumi sebagi rahmatal lil alamin (Q.S. 21:107), yaitu suatu misi yang membawa dan mengajak manusia dan seluruh sekalian alam untuk tunduk dan taat pada syari'ah dan hokum Allah guna kesejahteraan, kedamaian, dan keselamatan dunia
akhirat.
Ada tiga kekuatan rohani pokok yang berkembang padapusat kemanusian manusia (antropologis centra) yaitu:
- Individualitas, yakni kemampuan mengembangkan diri pribadi sebagai makhluk pribadi
- Sosialitas, yakni kemampuan mengembangkan diri selaku anggota masyarakat.
- Moralitas, yakni kemampuan mengembangkan diri selaku anggota masyarakat berdasarkan moralitas (nilai-nilai moral dan agama)
Di samping itu, misi tersebut berpijak pada trilogi hubungan manusia, yaitu:
Hubungan Manusia dengan Tuhan, karena manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Hubungan Manusia dengan Masyarakat, karena manusia sebagai anggota masyarakat.
Hubungan Manusia dengan Alam sekitar, karena manusia selaku pengelola, pengatur, serta pemanfaatan kegunaan alam.
Trichotomi dan Trilogy hubungan tersebut harus dilaksanakan secara simultan, serta seimbang, sehingga keselamatan orang lain dipentingkan, sentara keselamatan diri sendiri tidak dilalaikan.
Manusia selaku cendekiawan dan intelektual muslim yang mewarisi misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, dituntut untuk mengembangkan serta menempuh berbagai jalan untuk melestarikan misi tersebut. Dalam kaitan pendidikan, misi tersebut dapat dilakukan dalam proses belajar – mengajar, yang satu pihak menjadi pendidik dan pihak lain menjadi anak didik. Wallahu a'lamu bish showab
____________________________________________________________________________________

0 komentar:
Posting Komentar