
Terlahir sebagai orang penting. Ada tidak ya? Paling-paling juga dia jadi penting bagi orang lain karena suka mementingkan orang lain dalam segala hal, atau mungkin juga dia jadi orang penting karena memang di butuhkan orang lain untuk kepentingan mereka. Kepentingan. Keinginan mungkin sama dengannya. Tapi, kepentingan inilah yang membuat manusia tetap hidup dan berkembang di dunianya.
Diakui atau tidak kita harus menjadi orang yang penting dan mementingkan orang. Karena hidup itu sendiri penting kita perhatikan. “memang baik jadi orang penting, tapi akan lebih penting kalau jadi orang baik”, kata Laily ringan. Saya tersentak mendengarnya, bukan karena dia yang berkata, tapi tapi karena kata-katanya yang menyentuh pikiranku. Sepertinya sekarang saya harus lebih sering bercakap dengan alam sekitar. Kita perlu mengerti bahasa tumbuhan dan binatang, walaupun sebagian manusia menyamakan kita dengan binatang. Siapa yang mau disamakan dengan binatang?
Isyarat ilmu ada di mana-mana. Isyarat itu tidak akan hilang selagi alam belum hancur, sampai kapan isyarat itu akan habis masa berlakunya?. Bagi seseorang isyarat itu akan sama dengan usia dirinya. Tapi sedikit yang akan memahami isyarat ini, apalagi bagi seseorang yang tidak berpikir dengan jernih. Dunia ini penuh dengan isyarat. Isyarat itu beragam macam jenisnya. Manusia mengetahui sesuatu karena dia memahami isyarat.
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui”.
(Surah Al An’am:97)
dalam kata-kata bijak orang arab, “orang cerdas itu akan paham dengan satu isyarat, tapi orang bodoh tidak akan paham dengan beribu-ribu ibarat” kalau dulu, zaman sangat dulu itu. Bahula. Orang-orang akan mengetahui sesuatu akan terjadi karena alam sekitar mereka memberikan isyarat. Sebagaimana waktu-waktu shalat dalam kitab-kitab fiqh, tidak ditemukan satupun berpatokan pada jam dinding yang ada di masjid-masjid, hampir semuanya merujuk pada isyarat alam. Mulai dari waktu sholat subuh, dhuha, dzuhur, sampai subuh lagi. Tanpa ada petunjuk penggunaannya pun mereka para orang-orang sepuh akan mengetahui cara penggunaan isyarat-isyarat itu.
Disamping itu ilmu bagi pendahulu kita (yang hidup saat ini) bukan di kertas tapi di hati dan pikiran, “al ‘ilmu fissudur laa fissuthur”. Kita kadangkala menyaksikan pemandangan yang sebenarnya tidak enak dipandang. Seorang professor yang gagal memberikan pelatihan karena lap top(data presentasi)nya ketinggalan. Bagaimana kader-kader kita akankah pengalaman seorang professor tadi akan terulang ke-sekian kalinya. Kita lah yang menentukannya. Tapi kita sama-sama mengharapkan menjadi orang yang peka dengan isyarat alam ini sehingga kita bisa menjadi orang penting bagi masyarakat dan memberikan kebaikan dengan ilmu yang kita ketahui itu. Amin. Amin. Amin.
Aktualisasi boleh, tapi bukan untuk menyombongkan diri. “Kebolehan” boleh diuji, tapi bukan untuk membanggakan diri. “Kebanggaan” itu perlu kita miliki untuk menjadi orang yang diperhitungkan oleh Kholiq dan Makhluqnya. Dengan demikian kita akan menjadi orang penting karena mementingkan orang lain, bukan sebaliknya, kita penting karena dibutuhkan orang lain untuk kepentingan mereka. Karena kita hidup bukan untuk memuaskan kepentingan dan keinginan manusia tapi kita hidup untuk mengikuti keinginan Allah swt semata. Karena itu ridhoNya lah yang kita cari. Semoga sukses menjalani kehidupan ini dengan kesuksesan yang gemilang. Wallohu a’lamu bishshowaab.
Damanhuri Kh. Rahbini
Kamis, 12 shafar 1428 H/ 01 maret 2007 M
Disamping itu ilmu bagi pendahulu kita (yang hidup saat ini) bukan di kertas tapi di hati dan pikiran, “al ‘ilmu fissudur laa fissuthur”. Kita kadangkala menyaksikan pemandangan yang sebenarnya tidak enak dipandang. Seorang professor yang gagal memberikan pelatihan karena lap top(data presentasi)nya ketinggalan. Bagaimana kader-kader kita akankah pengalaman seorang professor tadi akan terulang ke-sekian kalinya. Kita lah yang menentukannya. Tapi kita sama-sama mengharapkan menjadi orang yang peka dengan isyarat alam ini sehingga kita bisa menjadi orang penting bagi masyarakat dan memberikan kebaikan dengan ilmu yang kita ketahui itu. Amin. Amin. Amin.
Aktualisasi boleh, tapi bukan untuk menyombongkan diri. “Kebolehan” boleh diuji, tapi bukan untuk membanggakan diri. “Kebanggaan” itu perlu kita miliki untuk menjadi orang yang diperhitungkan oleh Kholiq dan Makhluqnya. Dengan demikian kita akan menjadi orang penting karena mementingkan orang lain, bukan sebaliknya, kita penting karena dibutuhkan orang lain untuk kepentingan mereka. Karena kita hidup bukan untuk memuaskan kepentingan dan keinginan manusia tapi kita hidup untuk mengikuti keinginan Allah swt semata. Karena itu ridhoNya lah yang kita cari. Semoga sukses menjalani kehidupan ini dengan kesuksesan yang gemilang. Wallohu a’lamu bishshowaab.
Damanhuri Kh. Rahbini
Kamis, 12 shafar 1428 H/ 01 maret 2007 M

0 komentar:
Posting Komentar