23 April, 2007

Filled Under:

REFLEKSI JIWA suasana kampus Hidayatullah

REFLEKSI JIWA
Bingung, entah apa dan siapa yang menyebabkan saya bersikap seperti itu. Yang jelas bukan apa dan siapa tapi diri ini sendirilah yang menjadikan dirinya bingung. Kalau kita bingung gara-gara harta maka harta sendiri tidak bingung atas perlakuan kita. Kalau kita bingung gara-gara wanita sebenarnya wanita tidaklah cukup membingungkan ketika akan kita nikahi. Lalu kita bingung ini beneran atau hanya pura-pura membingungkan diri. Resah, gelisah, susah, was-was, takut, khawatir, dan lain sebagainya yang semisal dengan itu tidak akan memberikan nilai tambah yang banyak untuk kita nikmati jikalau kita tidak mampu untuk memaknai hidup dan kehidupan ini dengan baik.
Segala sesuatunya sudah diatur oleh Dia yang maha merencanakan segalanya.. apa yang sudah menjadi ketetapannya tidak akan dan tidak akan pernah bisa untuk diotak atik oleh kita manusia. Kalau kita mendapatkan kondisi yang sangat merugikan untuk kepentingan kita maka kita akan menyatakan suatu pernyataan yang sebenarnya tidak pantas untuk kita nyatakan apalagi sampai menvonis Tuhan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak paham terhadap umat manusia yang dia sendiri yang menciptakan semuanya, mustahil hal itu mustahil . otak yang fungsinya baik pasti akan berpikir seperti itu namun jangan harap bagi otak yang sudah gila dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat maka dia akan menunjukkan sikap yang menentang bahkan cenderung menghakimi Dzat yang eksistensinya ada dan pasti.
Tulisan ini pun juga membingungkan jika tidak dihargai dengan penghargaan yang maksimal dalam membacanya. Ungkapan seperti ini adalah ungkapan yang dibuat –buat untuk menjustifikasi agar yang ditulisnya tidak mendapatkan halangan dan kritikan dari orang lain. Hal ini adalah sikap orang yang tidak mau maju dan berkembang dengan baik, padahal ciri orang hidup itu salah satunya adalah tumbuh dan berkembang, pertumbuhan dan perkembangan itu akan baik jika disertai dengan gerakan yang dinamis dan berkelanjutan. Selanjutnya dari gerakan itulah akan melahirkan perkembangan yang pesat dan signifikan, atau apapun namanya.
Menulis adalah seni yang diberikan oleh Allah pada orang-orang tertentu, namun bukan berarti kita tidak bisa melakukannya. Akan tetapi segala hal yang sifatnya tidak melangit artinya membumi maka butuh pelatihan dan pembiasaan secara terus menerus, sementara menulis merupakan pekerjaan yang membumi maka harus juga membiasakan-nya pula. Menulis bukannya sekedar menulis seperti tulisan yang anda baca ini, tapi merupakan tulisan yang berkualitas dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi pembaca yang lain. Disamping itu menulis adalah pekerjaan yang nanti oleh Allah akan dimintai pertanggungjawaban atas tulisannya. Orang yang membacanya juga berkewajiban untuk meneliti dam mengoreksi tulisan itu. Karena jika tulisan itu salah maka dampaknya akan meluas karena semua lapisan masyarakat yang membacanya akan bertindak salah pula.
Menulis didahului dengan membaca karena seseorang yang menulis lancar sebenarnya dia juga kegiatan membacanya juga kuat. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara menulis dan membaca, namun bukan berarti yang menjadikan kita menulis adalah motivasi nafsu dan membaca begitu juga. Walaupun sekarang kita menemukan fenomena penulis-penulis yang mempunyai motivasi untuk mencari dana dan sebagainya. Kenapa saya katakan demikian karena kita membaca karena perintah Allah dalam kitabNya, dan sekecil-kecilnya motivasi adalah menambah pengetahuan tentang sesuatu. Setiap muslim diperintah oleh Allah untuk mencari pengetahuan yang belum diketahui. Seorang muslim akan taat mengerjakan ajaran Al Quran untuk bertanya pada ahlinya jika kita tidak mengetahuinya.
Saya menulis ini karena tidak mampu untuk menulis yang lebih banyak dan berbobot untuk kita, namun ini merupakan usaha awal saya dalam memulai penulisan disamping saya sedang menggarap penulisan terakhir yang akan mengukir sejarah bagi mahasiswa yang studi di perguruan tinggi.


Ahad , 28 januari 2007 M/09 muharrom 1428 H.
Besok senin adalah kegiatan akhir semester bagi mahasiswa. UAS semester gasal. Tidak terasa aku sudah semester berjenggot, tapi aku akan malu jika ilmu dan pengalamanku tidak sepanjang jenggot yang ada di daguku. Memang kadangkala aku bertanya pada diriku sendiri apa keahlianku dan apa kelebihanku dibandingkan dengan teman yang lain. Hal inilah yang kadang-kadang membuat aku merasa tidak nyaman bergaul dengan teman-teman yang lain. Dan yang lebih penting lagi apa kelebihanku dibandingkan dengan mahasiswa sekolah tinggi lain. Bukan karena harta, bukan karena wajah dan perawakan, bukan karena kecerdasan dan kepandaian, bukan karena kerapian dan kebersihan. Tapi itu semua karena sikap dan perilaku aku sehari-hari. Teman-teman aku sudah mengetahui dan bahkan lebih tahu dan lebih paham dariku mengenai diriku sendiri. Karena merekalah yang selalu mendapati aku pad kondisi apapun aku berada.
UAS besok. Ada harapan besar dalam pelaksanaannya. Ada keinginan besar dari pegasuh kita. Ada cita-cita besar dari sekolah tinggi ini. Ada sesuatu yang diinginkan oleh Organisasi Hidayatullah secara nasional dari lulusan STAIL hidayatullah Surabaya ini. Kalu tidak, tidak mungkin lah pengasuh kita akan memberlakukan jam malam bagi mahasiswa di asrama. Dengan batas waktu yang tidak seperti biasanya. Apalagi sampai menjadikan kartu mahasiswa sebagai jaminan keamanan. Tentunya kalau kita pahami hal itu maka kita akan merasa bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengumpulkan aku bersama dengan orang-orang yang baik. Dan menjadi kesempatan lebih banyak bagiku untuk mensyukuri segala nikmat ini. Dan belajar mensyukurinya dengan sabar.
UAS kali ini tidak sama dengan UAS yang biasa aku laksanakan tiap akhir semester, seperti kemarin2. tentunya akan berbeda, aku sekarang lebih dewasa dan lebih bijak menurutku dibandingkan dengan kemarin. Karena dalam diriku ada harapan besar dan mungkin lebih besar dari yang diharapkan oleh STAIL secara khusus dan harapan Hidayatullah secara umum. Mungkin ini saja yang perlu diketahui oleh semuannya, karena memang aku ingin bahagia di dunia ini sebagai penduduk dunia yang baik, dan tentunya bahagia di akhirat sebagai penghuni yang baik di sana.
Praktek yang sering kita jumpai adalah persekongkolan antara keda pihak atau ketiga, keempat pihak dalam menyelesaikan soal-soal ujian. Hal itu menjadi lumrah. Hal itu menjadi biasa. Itu kelicikan. Kekerasan berpikir. Kehampaan berusaha. Pengingkaran terhadap kemanusiaan. Atau karena usaha lobi yang sukses dari seseorang. Aku sendiri tidak tahu itu. Apa karena aku kadang-kadang melakukan itu, aku rasa tidak juga. Tapi justeru karena pemerintah kita menjadi teladan bagi rakyat Indonesia ini. Sehingga korupsi kecil-kecilan seperti itu tidak menjadi masalah besar. Sehingga bangsa ini tidak menjadi bangsa yang percaya diri dan bangga terhadap kemampuannya sendiri. Sehingga pantas kalau kita punya keahlian tapi tidak menyadari keahlian itu.
Kita hanya berdoa semoga ilmu kita bermanfaat di dunia dan akhirat. Bermanfaat bagi kita sendiri dan bermanfaat bagi orang lain. Yaitu memberikan manfaat. Memiliki daya guna. UAS bukanlah segala-galanya. Karena disana ada ujian yang sebenarnya yang nanti akan kita hadapi setelah kelulusan kita dari sekolah tinggi.
Kita tunggu dan sampai ketemu lagi di UAS semester gasal. Ini.
Senin, 2 shafar 1428 H/ 19 februari 2007 M
Pedih. Sakit. Nggak tertahankan. Luka ini. Sangat menjijikkan, apalagi bagi orang yang trauma melihat darah karena sudah tiap hari mereka menyaksikan penumpahan darah. Mereka akrab dengan hal-hal yang berbau darah. Tapi mau diapakan lagi, mereka memang takut dan akan pingsan kalau melihat darah mengalir begitu banyak. Tapi darah yang ada di tumitku, tidak seperti yang disebutkan diatas. Hanya luka kecil. Ya. Luka kecil. Tapi meninggalkan sakit yang berat. Sakit yang parah bagi diriku. Salah siapa? Kata-kata itu. Kata-kata itu seringkali aku mendengarnya ketika ada teman yang kehilangan flashdisk, atau MP3 bahkan kehilangan MP4. ya, salah siapa? Kenapa mesti yang kehilangan yang disalahkan atau dipertanyakan. Pencuri flashdisk. Mungkin ini lebih tepat. Sungguh kalau mau menyalahkan, kita salahkan mereka.

Kamis, 12 shafar 1428 H/ 01 maret 2007 M
Terlahir sebagai orang penting. Ada tidak ya? Paling-paling juga dia jadi penting bagi orang lain karena suka mementingkan orang lain dalam segala hal, atau mungkin juga dia jadi orang penting karena memang di butuhkan orang lain untuk kepentingan mereka. Kepentingan. Keinginan mungkin sama dengannya. Tapi, kepentingan inilah yang membuat manusia tetap hidup dan berkembang di dunianya. Diakui atau tidak kita harus menjadi orang yang penting dan mementingkan orang. Karena hidup itu sendiri penting kita perhatikan. “memang baik jadi orang penting, tapi akan lebih penting kalau jadi orang baik”, kata Laily ringan. Saya tersentak mendengarnya, bukan karena dia yang berkata, tapi tapi karena kata-katanya yang menyentuh pikiranku. Sepertinya sekarang saya harus lebih sering bercakap dengan alam sekitar. Kita perlu mengerti bahasa tumbuhan dan binatang, walaupun sebagian manusia menyamakan kita dengan binatang. Siapa yang mau disamakan dengan binatang?
Isyarat ilmu ada di mana-mana. Isyarat itu tidak akan hilang selagi alam belum hancur, sampai kapan isyarat itu akan habis masa berlakunya?. Bagi seseorang isyarat itu akan sama dengan usia dirinya. Tapi sedikit yang akan memahami isyarat ini, apalagi bagi seseorang yang tidak berpikir dengan jernih. Dunia ini penuh dengan isyarat. Isyarat itu beragam macam jenisnya. Manusia mengetahui sesuatu karena dia memahami isyarat.

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui”.
(Surah Al An’am:97)
dalam kata-kata bijak orang arab, “orang cerdas itu akan paham dengan satu isyarat, tapi orang bodoh tidak akan paham dengan beribu-ribu ibarat” kalau dulu, zaman sangat dulu itu. Bahula. Orang-orang akan mengetahui sesuatu akan terjadi karena alam sekitar mereka memberikan isyarat. Sebagaimana waktu-waktu shalat dalam kitab-kitab fiqh, tidak ditemukan satupun berpatokan pada jam dinding yang ada di masjid-masjid, hampir semuanya merujuk pada isyarat alam. Mulai dari waktu sholat subuh, dhuha, dzuhur, sampai subuh lagi. Tanpa ada petunjuk penggunaannya pun mereka para orang-orang sepuh akan mengetahui cara penggunaan isyarat-isyarat itu.
Disamping itu ilmu bagi pendahulu kita (yang hidup saat ini) bukan di kertas tapi di hati dan pikiran, “al ‘ilmu fissudur laa fissuthur”. Kita kadangkala menyaksikan pemandangan yang sebenarnya tidak enak dipandang. Seorang professor yang gagal memberikan pelatihan karena lap top(data presentasi)nya ketinggalan. Bagaimana kader-kader kita akankah pengalaman seorang professor tadi akan terulang ke-sekian kalinya. Kita lah yang menentukannya. Tapi kita sama-sama mengharapkan menjadi orang yang peka dengan isyarat alam ini sehingga kita bisa menjadi orang penting bagi masyarakat dan memberikan kebaikan dengan ilmu yang kita ketahui itu. Amin. Amin. Amin.
Aktualisasi boleh, tapi bukan untuk menyombongkan diri. “Kebolehan” boleh diuji, tapi bukan untuk membanggakan diri. “Kebanggaan” itu perlu kita miliki untuk menjadi orang yang diperhitungkan oleh Kholiq dan Makhluqnya. Dengan demikian kita akan menjadi orang penting karena mementingkan orang lain, bukan sebaliknya, kita penting karena dibutuhkan orang lain untuk kepentingan mereka. Karena kita hidup bukan untuk memuaskan kepentingan dan keinginan manusia tapi kita hidup untuk mengikuti keinginan Allah swt semata. Karena itu ridhoNya lah yang kita cari. Semoga sukses menjalani kehidupan ini dengan kesuksesan yang gemilang. Wallohu a’lamu bishshowaab.

Damanhuri Kh. Rahbini

Surabaya, 28 Maret 2007 M / 10 Robiul Awal 1428 H.

Hidup dalam kepura-puraan. Tidak jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Hidup yang tidak jelas tujuan akhir dan kapan hidup itu “dimulai”. Tapi dunia sekarang lebih suka (baca demen) dengan hidup yang serba pura-pura. Tapi sedahsyat apapun mereka berpura-pura melebur dengan orang yang baik-baik, berdiskusi dengan orang yang rajin baca, bermain dengan orang yang hobi main, bercanda dengan orang yang suka humor, semoga dan semoga saja kita tetap dikaruniai ‘mata’ yang tetap eksis dan berdaya fungsi yang maksimal sehingga kita (baca mahasiswa muslim) mampu membedakan siapa yang hanya berpura-pura dan siapa yang tidak berpura-pura. Semoga. Amin.

Masihkah mereka akan tetap berpura-pura tidak mengerti kondisi moral “negeri” kita. Atau barangkali (tapi bukan kalidamen atau kali mas-nya Surabaya) mereka benar-benar tidak melihat dengan mata hati atau setidaknya melihat dengan mata kepala kalau diluar sana sering kita jumpai suatu hal yang tidak patut dipertontonkan oleh seorang manusia yang benar-benar manusia. Kondisi dan situasi yang menuntut kita untuk berlari cepat mengejar dan menangkapnya dan selanjutnya mengubahnya menjadi situasi yang menentramkan kita dan menyejukkan mata. Seperti hari ini, sekitar jam 12 siang dalam perjalanan pulang ke kampus kita ini, penulis menyaksikan seorang bocah perempuan yang kira-kira berumur lima tahunan sedang bersama adiknya yang masih belajar berjalan melihat dengan penglihatan yang memburu, serta mempelajari dan selanjutnya meniru dua muda mudi es-em-u yang sedang –maaf, untuk lebih sopan-lebih baik untuk kita ucapkan-ber”acting” di atas sepeda motornya tanpa ada rasa takut –rasa malu-sedikitpun, bahkan dengan bangganya dan dengan jelasnya mengerjakan hal yang demikian di depan umum. Dua muda mudi itu dengan jelas dan tanpa ada sikap kepura-puraan sedikitpun, mereka melangkah dan berbuat dengan kemantapan. Sementara si bocah yang dalam ilmu psikologi masih dalam taraf anak-anak yang senantiasa peka dengan hal baru dan berpetualang untuk mencari panutan, dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun dia memandangnya sampai mereka hilang dari pandangannya. Akankah kita terus dan eksis dan kepura-puraan sedangkan kita menyampaikan apa yang diperintahkan Allah-penjamin orang beriman.

Maka sudah semestinya kita tampil jantan dan dengan langkah mantap dalam menyuarakan kebenaran. Karena jika kita ragu-ragu untuk bertindak karena takut berhadapan dengan kritikus ulung, maka kita tidak akan pernah berbuat selamanya. Maka lakukanlah apa yang kita yakini kebenarannya, jelas manfaatnya, diridhai Allah dan disetujui oleh orang-orang yang berakal dan ikhlas. Dan selanjutnya tulislah apa yang kita yakini dan katakanlah apa yang ingin kita katakan dengan jelas dan tidak membingungkan. Bukankah Al-Quran sudah menjelaskan qul innani ana muslimun, maka katakanlah nasehatmu dengan kebanggaanmu sebagai seorang muslim. Dan terakhir semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang berpura-pura, sehingga tidak ada kata-kata; DA’I PURA-PURA, SARJANA PURA-PURA, MAHASISWA PURA-PURA, PENGURUS PURA-PURA, MUROBBI PURA-PURA atau PENULIS PURA-PURA. Wallohu a’lamu . semoga. Semoga. Amin.


Damanhuri Kh. Rahbini.
Bukan mahasiswa pura-pura







0 komentar:

Copyright @ 2013 RUMAH KEHIDUPAN.