23 April, 2007

Filled Under:

Puisi dari Abdul Basith

Malang, 22 agustus 2006 15:50
Waktu

Detik demi detik…………
Tidak terasa lewat dengan cepatnya
Menyisakan butiran-butiran nilai
Semuanya begitu terasa,
Ketika
Kita akan mendekati detik yang lain
Semuanya semakin terasa …
Ketika alpa…….
Terlewat dari perhatian
Sampai dekat pada detik-detik..
Kita dihadapkan
Pada kesempatan
Menghadap padaNya
Dzat Maha segala

Kacong Madura


Malang, 01 september 2006 20:00
Cinta

Karena kaulah aku menulis puisi-puisi indah
Denganmulah aku dapat menuangkan isi hati
Tidak yang lain
Kepadamu
Kupersembahkan
Hidup matiku
Pengharapan dan asaku
Kugantungkan harapan
Hanya kepadamu
Tiada yang lain
Sambutlah……
Terimalah……..
Seluruh jiwa raga
Walau
Ku tahu banyak bersalah
Namun maafmu
Adalah segalanya
Karena ku
rindu itu

Kacong Madura
Malang, 07 agustus 2006 20:20
Tradisi

Ku ikuti langkah kaki……
Walaupun tidak seirama
Langkah-langkah yang terkadang.
Panjang, pendek, sedangkan ,
Di dalam yang tidak pernah …..
Sampai kapan…
Seirama…
Mungkin ku harus…
Dan ku bisa………
Namun, apakah.
Ku bisa selaras ….?
Ku pasrahkan semua kepada Mu
Sang Maha Pengatur
KehendakMu
Terjadilah…..
Kacong Madura

Malang, 07 agustus 2006 11:15
ReinkarnasiMu

Wajah ayumu bersinar lagi
Seperti kemarin lusa
Menampakkan diri dalam lain rangka
Teringat semua kenangan
Terlalu sering
Lebih ayu, lebih semangat
Oh robbi
Betapa sempurna makhlukmu
Dengan apa ku harus membalas
Semuanya begitu
Berharga
Kuatkan hatiku
Tuk menatapnya
Jangan kau goyahkan aku
Karena
Kaulah segalanya

Kacong Madura

Malang, 12-06-06
Nakal

Riuh rendah suara
Keluar dari mulut-mulut suci
Membaca mantra kehidupan
Hal penting untuk kehidupan
Diselingi suara-suara nakal
Sesekali terlontar tuk teman
Ungkapan…….
Luapan kegembiraan
Kedongkolan hati
Hingga semua berakhir
Bubar, berpencar……
Serius.
Menghadapi pelajaran
Yang akan tercurahkan

Kacong Madura

Malang, 05-09-06
Hidup

Bicaramu, lidahmu
Sumber fitnah
Matamu
Sumber fitnah
Telingamu
Sumber fitnah
Hidungmu
Sumber fitnah
Badanmu
Sumber fitnah
Fitnah
Karena hidup sendiri
Adalah fitnah dan cobaan

Kacong Madura



Muhasabah

Kubiarkan air hitam singgah dilambungku
Biar kelopak mata lari dari kenyenyakan
Kubentangkan sayap sajadah diatas tanahmu
Ku istirahatkan butiran-butiran kayu diatasnya
Kuajak tulang-tulangku menghadapmu
Ku suguhkan hati penuh debu
Biar suci tersiram oleh hidayahmu
Ku ajak pikiranku bersilaturrohmi di sisimu
Ku lepaskan sukmaku mencarimu
Ku angkat sepasang nikmatmu
Demi memohon maghfirohmu
Oh,….penjaga arsy
Hamba masih hijau
Tapi, sudah menghampar luas
Butiran-butiran dosa yang ku tanam
Seperti banyaknya rumput disegara hijaumu
Tak dapat terhitung oleh hambamu
Selama kaki masih bersimpuh dibawah naunganmu
Kucoba aliran nafasku menghembuskan asmamu
Bersama burung-burung malam berdzikir kepadamu
Meski kesunyian menyelimutiku
Ku tetap tengadahkan sepasang nikmatmu
Memohon agar rumput-rumputku
Cepat menguning dan mati bersama akarnya
Hingga hamba dapat menyuguhkan senyuman untukmu
Wahai kekasihku.

Ahmad latif
Situbondo, 04-09-05 15:20
Lautku

Desiran angin
Lambaian pohon nyiur
Guratan langit berawan
Riaknya air laut
Terkena hempasan udara laut
Ditemani teman setia
Hamparan pasir yang menghitam
Oh robbi
Betapa agung kreasimu
Tiada tandingan
Tiada banding

Kacong Madura

Situbondo, 03-08-05
Cerita semut

Di pagi yang dingin menusuk
Merasuk, merayap jauh ke sumsum
Membuat semua menggigil
Namun
Tidak demikian dengan segerombolan semut
Pagi buta merayap menyusuri pekatnya keremangan
Berusaha mencari sesuatu yang hilang
Bergerombol, beriringan
Menuju satu tujuan pasti
Terdengar derap langkahnya
Memecah kesunyian
Ketika itu seorang anak
Mengamatinya penuh takjub akan kebesaran pencipta,
Penggerak, yang kuasa.
Menyuguhkan keindahan ciptaannya

Kacong Madura

Bukit kentingan, april 2002
Resah

Di cermin jiwa aku berkaca
Ada gelombang di keningku
Semakin lama semakin jelas
Menggambarkan batang usia yang sudah tinggi
Sementara setiap bait puisiku
Selalu terluka sebelum sempat terbaca
Aku terharu
Pada tunas-tunas muda
Yang memperoleh corak pada gambaran zaman
Namun aku tahu
Masih ada waktu untuk berbenah
Hampir seperempat abad waktu
Kucoba sibak butiran debu
Yang mengotori tabir darahku
Hingga alirnya tiada beku
Seiring untaian melati
Bertabur pada kerangka puisiku yang belum jadi
Sementara tetes keringat dan air mataku
Belum berarti tuk tegakkan
Asmamu

Kacong Madura

Situbondo, 13 sept 2004 17:20
Derita hati

Hati bergetar tak beraturan
Menangkap sesuatu
Fatamorgana fenomena
Nun jauh di sana
Derita seseorang yang terbaring
Lemah menanti “keputusan”
Tidak kuasa tuk berbuat
Dihimpit derita kekecewaan
Jawaban seseorang
Apa daya jawaban tidak sesuai
Harapan yang diimpi-impikan
Penyesalan,,,
Menghampiri, menambah duka
Oh sang pemberi cinta
Rajutlah cinta
Untuk mencinta

Kacong Madura

Demi masa

Saat tulang sudah rapuh
Lepuh bersama iringan rintihan yang riuh
Kesombonganpun tidak bisa disepuh
Karena semuanya sudah luluh
Saat penyesalan tiada arti
Karena masa muda takkan lagi kembali
Kini tinggallah jeritan hati
Mengiringi tuntasnya hari
Oh masa muda
Kemarilah ……..
Ku rindu kenangan –kenangan lama
Yang masih tersimpan rapi di dada
Namun,,
Kau tidak mendengar nada
Yang selalu meronta-ronta
Kini semuanya telah tiada
Digilas zaman yang selalu berputar
Senantiasa

Kacong Madura
Situbondo, 01-09-05 17:25

Nyanyian alam (pagi nan indah)

Setetes embun pagi menjatuhkan diri
Di sela rerumputan yang menghijau
Selamat datang teman, embun
Embun sebening kristal super
Saat itulah anak-anak sudah rapi
Berangkat ke padang rumput
Tuk bermain bersama kupu-kupu
Di selingi irama kicauan burung
Udara pagi yang menyegarkan melengkapi kebahagiaan
Matahari pun memunculkan diri
Iri melihat sang anak
Turut bergembira
Dalam suasana pagi
Nan cerah ceria

Kacong Madura


Cobalah terka

Betapa indah bercengkrama
Sebagaimana langit dengan mendung
Atau cakrawala dengan petirnya
Seindah gemericik air pada sungai
Atau deburan ombak pada samudera
Mengalirlah seperti air sungai
Meliuk kanan kiri
Membentur batu
Akhirnya
Sampai juga di samudera
Menghembuslah
Bagai angin gunung
Elusan dan tamparannya
Menyejukkan
Cobalah terka
Sebab apa mereka
Bertengkar antar sesame

Kacong Madura


0 komentar:

Copyright @ 2013 RUMAH KEHIDUPAN.