
Surabaya, 28 Maret 2007 M / 10 Robiul Awal 1428 H.
Hidup dalam kepura-puraan. Tidak jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Hidup yang tidak jelas tujuan akhir dan kapan hidup itu “dimulai”. Tapi dunia sekarang lebih suka (baca demen) dengan hidup yang serba pura-pura. Tapi sedahsyat apapun mereka berpura-pura melebur dengan orang yang baik-baik, berdiskusi dengan orang yang rajin baca, bermain dengan orang yang hobi main, bercanda dengan orang yang suka humor, semoga dan semoga saja kita tetap dikaruniai ‘mata’ yang tetap eksis dan berdaya fungsi yang maksimal sehingga kita (baca mahasiswa muslim) mampu membedakan siapa yang hanya berpura-pura dan siapa yang tidak berpura-pura. Semoga. Amin.
Masihkah mereka akan tetap berpura-pura tidak mengerti kondisi moral “negeri” kita. Atau barangkali (tapi bukan kalidamen atau kali mas-nya Surabaya) mereka benar-benar tidak melihat dengan mata hati atau setidaknya melihat dengan mata kepala kalau diluar sana sering kita jumpai suatu hal yang tidak patut dipertontonkan oleh seorang manusia yang benar-benar manusia. Kondisi dan situasi yang menuntut kita untuk berlari cepat mengejar dan menangkapnya dan selanjutnya mengubahnya menjadi situasi yang menentramkan kita dan menyejukkan mata. Seperti hari ini, sekitar jam 12 siang dalam perjalanan pulang ke kampus kita ini, penulis menyaksikan seorang bocah perempuan yang kira-kira berumur lima tahunan sedang bersama adiknya yang masih belajar berjalan melihat dengan penglihatan yang memburu, serta mempelajari dan selanjutnya meniru dua muda mudi es-em-u yang sedang –maaf, untuk lebih sopan-lebih baik untuk kita ucapkan-ber”acting” di atas sepeda motornya tanpa ada rasa takut –rasa malu-sedikitpun, bahkan dengan bangganya dan dengan jelasnya mengerjakan hal yang demikian di depan umum. Dua muda mudi itu dengan jelas dan tanpa ada sikap kepura-puraan sedikitpun, mereka melangkah dan berbuat dengan kemantapan. Sementara si bocah yang dalam ilmu psikologi masih dalam taraf anak-anak yang senantiasa peka dengan hal baru dan berpetualang untuk mencari panutan, dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun dia memandangnya sampai mereka hilang dari pandangannya. Akankah kita terus dan eksis dan kepura-puraan sedangkan kita menyampaikan apa yang diperintahkan Allah-penjamin orang beriman.
Maka sudah semestinya kita tampil jantan dan dengan langkah mantap dalam menyuarakan kebenaran. Karena jika kita ragu-ragu untuk bertindak karena takut berhadapan dengan kritikus ulung, maka kita tidak akan pernah berbuat selamanya. Maka lakukanlah apa yang kita yakini kebenarannya, jelas manfaatnya, diridhai Allah dan disetujui oleh orang-orang yang berakal dan ikhlas. Dan selanjutnya tulislah apa yang kita yakini dan katakanlah apa yang ingin kita katakan dengan jelas dan tidak membingungkan. Bukankah Al-Quran sudah menjelaskan qul innani ana muslimun, maka katakanlah nasehatmu dengan kebanggaanmu sebagai seorang muslim. Dan terakhir semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang berpura-pura, sehingga tidak ada kata-kata; DA’I PURA-PURA, SARJANA PURA-PURA, MAHASISWA PURA-PURA, PENGURUS PURA-PURA, MUROBBI PURA-PURA atau PENULIS PURA-PURA. Wallohu a’lamu . semoga. Semoga. Amin.
Damanhuri Kh. Rahbini.
Bukan mahasiswa pura-pura
