Sungguh berbuat baik dan berakhlak baik kepada kedua orang tua merupakan
hal yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan setiap insan, laki-laki
atau perempuan. Hadits Nabi saw menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orang tua
memiliki pengaruh yang besar terhadap
akhlak baik dari anak-anak kita. Oleh karena itu, jika kita menghendaki anak
kita berbuat baik pada kita maka bersegeralah kita berbuat baik kepada kedua
orang tua kita, sama saja kita sudah menikah atau masih bujang. Sebagaimana perintah Rasulullah saw riwayat dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:
عِفُّوا عَنْ نِسَاءِ النَّاسِ،تَعِفَّ
نِسَاؤُكُمْ،وَبَرُّوا آبَاءَكُمْ،تَبَرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ
Jagalah
kehormatan diri istri-istri orang lain maka istri kalian menjadi terjaga
kehormatan dirinya, dan berbuat baiklah kepada orang tua kalian maka anak-anak
kalian akan berbuat baik kepada kalian....! ). Seperti itu juga riwayat dari
Abdullah ibn Umar ra. (Musytadrok Hakim:7258-7259)
Dengan demikian, kita mengetahui sebab ketidaktaatan anak kita, walaupun
mereka di masa kecil sudah dibawah ketatnya pengawasan kita dan pemeliharaan
serta pendidikan yang baik. Sehingga, metode
yang tepat untuk membentuk anak agar berperilaku baik dan berjalan pada jalan
yang benar adalah memperbaiki perilaku dan jalan kita, dengan merubah akhlak
kita dalam berinteraksi dengan orangtua kita. Misalnya, dengan memuliakan dan mentaati
mereka dan tidak menyakiti mereka dalam bentuk apapun, ucapan atau perbuatan.
Disadari atau tidak disadari, keadaan orang tua akan terjadi pada
putra-putrinya. Hal ini merupakan ketentuan Allah swt (sunnatullah)
sebagaimana Rasul saw memberitahukan pada kita.
عَنْ أَبِي قِلَابَةَ،قَالَ:قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم:" الْبِرُّ لَا
يَبْلَى،وَالْإِثْمُ لَا يُنْسَى،وَالدَّيَّانُ لَا يَمُوتُ،فَكُنْ كَمَا شِئْتَ
كَمَا تَدِينُ تُدَانُ"
Dari Abu
Qilabah berkata: Rasulullah saw bersabda, kebaikan itu tidak akan rusak (usang)
dan kejahatan tidak akan terlupa dan orang punya hutang tidak akan meninggal.
Jadi, berbuatlah dirimu seperti yang kau inginkan karena seperti itu kamu
berbuat seperti itu pula kamu dibalas. (Shohih Mursal, Jami’ Ibnu
Rasyid: 874)
وعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُرَّةَ،
قَالَ: قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: " اعْبُدُوا اللهَ كَأَنَّكُمْ تَرَوْنَهُ،
وَعَدُّوا أَنْفُسَكُمْ فِي الْمَوْتَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ قَلِيلًا يَكْفِيَكُمْ
خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يُلْهِيكُمْ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْبِرَّ لَا يَبْلَى،
وَأَنَّ الْإِثْمَ لَا يُنْسَى
Abdullah bin Murrah berkata: Abu Darda berkata: "beribadahlah kepada Allah
seolah-olah kalian melihat Allah dan persiapkan diri kalian untuk kematian
kalian dan ketahuilah bahwa bekal sedikit yang menyelamatkan lebih baik dari
pada bekal yang banyak tapi mencelakakan dan ketahuilah bahwa kebaikan tidak
akan usang dan sungguh kejahatan tidak dilupakan. (Hasan, Syu’bul Iman:
10182)
Ahmad bin Hambal ( Az-Zuhdu:773) menerangkan Riwayat Hasan
yang sama dari Abu Qilabah, Abu Darda berkata: kebaikan tidak akan usang
(rusak) dan kejahatan (dosa) tidak akan terlupa dan orang punya hutang tidak
akan bisa tidur, jadilah dirimu sesukamu seperti itu kamu berbuat seperti itu pula kamu dibalas.
Dan Firman Allah,
وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ
مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ
الظَّالِمِينَ
Artinya : “Bagi orang yang berbuat buruk kepada orang lain, maka balasannya
adalah perlakuan buruk yang setimpal. Akan tetapi bagi orang yang memaafkannya
dan berlaku baik kepadanya, maka Allah menjamin pahalanya. Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat aniaya (mengulangi perbuatannya). (Al-Quran Surat Al-Syura:
40).
Jika manusia merenungi sekelilingnya, maka dia akan menemukan bukti pembenaran pernyataan ini, dan dia akan melihat dengan jelas dengan pandangan mata ini bahwa seorang Ayah yang mendurhakai orang tuanya akan melahirkan anak yang tidak taat dan durhaka.
Semakin jelas bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Berdasarkan hal
ini, maka dapat dikatakan, yang harus dilakukan adalah meluruskan dan
memperbaiki perilaku Ayah terhadap orang tuanya sehingga perilaku putra-putri
mereka menjadi benar dan baik terhadap orang tuanya. Para Ulama sudah menyusun
dan menjelaskan tentang Birrul Walidayn baik yang dikarang dalam satu
kitab dan penelitian yang lengkap dan komprehensif ( Untuk mengambil Bukunya disini ), atau satu bab dalam sebuah kitab.
Bagaimana konteks kita sebagai seorang santri? Siswa atau pun Mahasiswa?
Ustadz atau pun Pengasuh? STAI Luqman al Hakim Surabaya merupakan rumah kita di
Surabaya ini. Beda lagi jika kita di rumah orang tua kita. Mahasiswa adalah
anak-anak pondok ini. Semoga menjadi renungan untuk bersama. Abu Nawwaf.

2 komentar:
nasehat yang sangat bermanfa'at. terima kasih atas nasehatnya, kami mohon ijin dan ridhanya untuk mengcofy. jazaakallahu khoiran katsiiran. amin.
nasehat yang sangat bagus. mohon ijin dan ridhanya untuk mengcofy. jazakallahu khoiran katsiran. amin.
Posting Komentar