Ketika Ustads Fuad, adalah seorang Ustadz dari Bangil, Pasuruan, dan menjadi dosen tetap di STAI Luqman al hakim, Surabaya, dalam ceramahnya di depan mahasiswanya mengatakan apakah asrama kita itu akan mendatangkan Nikmat atau mendatangkan adzab tergantung pada siapa yang menempatinya. Kalau penghuninya beramal dengan amalan yang diridhai Allah maka datanglah Nikmat, tapi sebaliknya jika penghuni asrama itu mengerjakan amalan yang Allah benci dan Dia murkai, maka
adzablah yang akan datang menghampiri. Lain Ustads Fuad lain lagi Ustads Habiburrahman el Syirazi (penulis buku fenomenal Ayat-ayat Cinta). Kang Abik sering mengulang kata-kata ini “mudah-mudahan ini Nikmat bukan Istidraj”. Apa Istidraj itu? Istidraj itu sebenarnya adzab juga, tapi adzabnya tidak datang seketika, dia datang setelah didahului ‘Nikmat’. Istidraj itu juga ‘Nikmat’. Bingung kan?
Saya juga tidak mau memilih, apakah Istidraj atau Nikmat yang mendatangiku? Itu hak Allah yang menurunkan Nikmat bagi orang yang dikehendakinya. Tapi juga tidak bisa memilah yang mana yang Nikmat bagiku dan yang mana yang Istidraj bagiku?, cukuplah bagiku meyakini seperti apa yang diyakini oleh Syaikh Hasan Basri, “......., saya meyakini bahwa rezekiku tidak akan tertukar dengan orang lain, maka aku tenang dengan itu, ....”. Kebahagiaan dan kepuasan adalah suatu hal yang sangat berharga bagi seseorang. Ada yang puas karena dia telah mampu menundukkan perasaannya dan perasaan lawan jenisnya, ada yang bahagia karena kiriman uang sudah masuk ke rekeningnya, ada lagi yang bahagia karena memperoleh pekerjaan, ada yang puas karena prestasinya tidak anjlok. Bahkan ada yang bahagia karena baru saja dia lepas dari problemanya. Entah apapun bentuknya, kita kembalikan dan tanyakan pada kita sendiri. Apakah yang kita peroleh itu benar Nikmat atau bukan. Kalau bukan Nikmat pasti yang lain.
“Ketika saya menulis buku, baik Ayat-Ayat Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Nyanyian Cinta, maupun karya-karya saya yang lain selalu ada ribuan pertanyaan yang berkecamuk dalam benak & jiwa saya: Apakah karya saya itu nantinya akan mendatangkan rahmat atau malah mengundang Azab? Apakah karya saya itu akan memberikan kontribusi positif bagi umat atau malah sebaliknya? Apakah karya saya itu akan membangun jiwa atau malah merusak jiwa? Apakah karya saya itu akan dinilai ibadah oleh Allah atau dinilai sebuah dosa besar yang tak terampuni oleh-Nya? Saya takut jangan-jangan saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah Azza wa Jalla” kata Ustad Habiburrahman dalam sebuah wawancara dengannya. Akhir-akhir ini, telah terjadi beberapa peristiwa penting yang perlu dicatat oleh kita, seperti pergantian kepemimpinan PPH yang pasti akan merombak struktur kepengurusan di lembaga-lembaga di bawahnya. Peristiwa lain, adalah STAIL “dikenalkan” tanpa harus mengenalkan ke Public oleh saudaranya sendiri, BMH. Bagi saya, jalan dan gerakan seseorang itu sudah merupakan pelajaran terpenting baginya. Tiap orang punya jalan kehidupan yang berbeda. Hanya saja, kita berharap semua yang terjadi benar-benar menjadi Nikmat yang besar dari Allah, al-Mun’im. Berbagai ucapan selamat dan bantuan orang lain pada kita bukan merupakan Istidraj dari_Nya. Terakhir, karya tulis kita, apapun bentuknya, apalagi semester delapan lagi sibuk menggarap Skripsi, benar-benar bermanfaat dan memberikan kontribusi yang positif bagi umat.
Damanhuri.Surabaya, Jumat, 19 April 2007
adzablah yang akan datang menghampiri. Lain Ustads Fuad lain lagi Ustads Habiburrahman el Syirazi (penulis buku fenomenal Ayat-ayat Cinta). Kang Abik sering mengulang kata-kata ini “mudah-mudahan ini Nikmat bukan Istidraj”. Apa Istidraj itu? Istidraj itu sebenarnya adzab juga, tapi adzabnya tidak datang seketika, dia datang setelah didahului ‘Nikmat’. Istidraj itu juga ‘Nikmat’. Bingung kan?
Saya juga tidak mau memilih, apakah Istidraj atau Nikmat yang mendatangiku? Itu hak Allah yang menurunkan Nikmat bagi orang yang dikehendakinya. Tapi juga tidak bisa memilah yang mana yang Nikmat bagiku dan yang mana yang Istidraj bagiku?, cukuplah bagiku meyakini seperti apa yang diyakini oleh Syaikh Hasan Basri, “......., saya meyakini bahwa rezekiku tidak akan tertukar dengan orang lain, maka aku tenang dengan itu, ....”. Kebahagiaan dan kepuasan adalah suatu hal yang sangat berharga bagi seseorang. Ada yang puas karena dia telah mampu menundukkan perasaannya dan perasaan lawan jenisnya, ada yang bahagia karena kiriman uang sudah masuk ke rekeningnya, ada lagi yang bahagia karena memperoleh pekerjaan, ada yang puas karena prestasinya tidak anjlok. Bahkan ada yang bahagia karena baru saja dia lepas dari problemanya. Entah apapun bentuknya, kita kembalikan dan tanyakan pada kita sendiri. Apakah yang kita peroleh itu benar Nikmat atau bukan. Kalau bukan Nikmat pasti yang lain.
“Ketika saya menulis buku, baik Ayat-Ayat Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Nyanyian Cinta, maupun karya-karya saya yang lain selalu ada ribuan pertanyaan yang berkecamuk dalam benak & jiwa saya: Apakah karya saya itu nantinya akan mendatangkan rahmat atau malah mengundang Azab? Apakah karya saya itu akan memberikan kontribusi positif bagi umat atau malah sebaliknya? Apakah karya saya itu akan membangun jiwa atau malah merusak jiwa? Apakah karya saya itu akan dinilai ibadah oleh Allah atau dinilai sebuah dosa besar yang tak terampuni oleh-Nya? Saya takut jangan-jangan saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah Azza wa Jalla” kata Ustad Habiburrahman dalam sebuah wawancara dengannya. Akhir-akhir ini, telah terjadi beberapa peristiwa penting yang perlu dicatat oleh kita, seperti pergantian kepemimpinan PPH yang pasti akan merombak struktur kepengurusan di lembaga-lembaga di bawahnya. Peristiwa lain, adalah STAIL “dikenalkan” tanpa harus mengenalkan ke Public oleh saudaranya sendiri, BMH. Bagi saya, jalan dan gerakan seseorang itu sudah merupakan pelajaran terpenting baginya. Tiap orang punya jalan kehidupan yang berbeda. Hanya saja, kita berharap semua yang terjadi benar-benar menjadi Nikmat yang besar dari Allah, al-Mun’im. Berbagai ucapan selamat dan bantuan orang lain pada kita bukan merupakan Istidraj dari_Nya. Terakhir, karya tulis kita, apapun bentuknya, apalagi semester delapan lagi sibuk menggarap Skripsi, benar-benar bermanfaat dan memberikan kontribusi yang positif bagi umat.
Damanhuri.Surabaya, Jumat, 19 April 2007

0 komentar:
Posting Komentar